Leicester City resmi memutuskan hubungan dengan manajer Marti Cifuentes setelah enam bulan memimpin tim. Keputusan ini diumumkan menyusul kekalahan kandang 2-1 dari Oxford, yang membuat The Foxes tertahan di posisi ke-14 Championship dan tertinggal enam poin dari zona play-off. Kekalahan tersebut menambah daftar buruk Leicester, menjadi yang ke-11 mereka musim ini.

Cifuentes sebelumnya menggantikan Ruud van Nistelrooy pada Juli lalu setelah meninggalkan QPR. Kepergiannya menandai pencarian manajer tetap ketujuh klub dalam waktu kurang lebih dua setengah tahun, menunjukkan ketidakstabilan manajerial di tengah ambisi Leicester untuk kembali ke Premier League.
Andy King, mantan pemain dan pelatih tim utama, ditunjuk sebagai pelatih sementara. Penunjukan ini diharapkan dapat membawa stabilitas sementara klub mencari manajer baru yang bisa mengarahkan Leicester kembali ke jalur kemenangan dan menembus zona play-off.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Keputusan Klub, Demi Kepentingan Terbaik
Ketua Leicester City, Aiyawatt Srivaddhanaprabha, menyebut keputusan pemecatan Cifuentes sebagai langkah “sulit” yang diambil demi kepentingan klub. Ia menyampaikan terima kasih atas komitmen Cifuentes selama menjabat dan berharap yang terbaik untuk masa depannya.
“Ini adalah keputusan yang tidak mudah. Marti memberikan segalanya untuk Leicester City dan bekerja tanpa lelah untuk mencapai target kami,” ujar Srivaddhanaprabha. Ia menambahkan bahwa meskipun pemecatan terasa berat, langkah ini diperlukan untuk meningkatkan performa dan hasil tim di sisa musim.
Keputusan ini juga mencerminkan tekanan yang terus membayangi Leicester, yang kini membutuhkan arah kepemimpinan yang lebih jelas untuk memperbaiki posisi di klasemen.
Baca Juga: Pep Guardiola: Rodri Kembali dan Mengubah Permainan Manchester City!
Tantangan di Lantai Championship

Musim ini, Leicester kesulitan mempertahankan performa sejak terdegradasi dari Premier League pada 2023. Klub gagal meraih promosi kembali, meskipun memiliki sejarah kuat di kasta atas. Kendala keuangan dan keterbatasan dalam dua jendela transfer terakhir membuat skuad kesulitan bersaing dengan tim lain di Championship.
Selain itu, klub menghadapi kemungkinan pengurangan poin akibat dugaan pelanggaran aturan keuangan EFL pada Mei tahun lalu. Situasi ini menambah tekanan pada manajemen dan tim, membuat pencapaian target play-off menjadi semakin menantang.
Kombinasi performa buruk, keterbatasan transfer, dan masalah finansial membuat Leicester City berada di titik kritis. Namun perubahan manajerial dianggap sebagai langkah strategis untuk memperbaiki keadaan.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan Andy King sebagai pelatih sementara, Leicester berharap bisa menstabilkan performa tim dalam beberapa pekan ke depan. Fokus utama adalah meraih hasil positif, mengurangi jarak dengan zona play-off, dan memberi waktu bagi manajemen untuk mencari manajer permanen yang tepat.
Masa depan Cifuentes mungkin terbuka di klub lain, mengingat rekam jejaknya di Championship sebelumnya. Sementara itu, Leicester City harus bergerak cepat untuk memastikan tim tetap kompetitif dan tidak kehilangan momentum di sisa musim ini.
Langkah ini menegaskan tekad klub untuk kembali ke Premier League dan menunjukkan bahwa mereka tidak akan menunda keputusan sulit demi kepentingan jangka panjang tim. Simak terus pembahasan terbaru seputar olahraga menarik lainnya hanya di sports-vulkanstavka.com.
